Tampilkan postingan dengan label Resep. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resep. Tampilkan semua postingan
Minggu, 10 April 2011
Rahasia Laki-laki Penghuni Surga
Salah satu amalan yang harus diamalkan umat Islam adalah menjauhi sifat iri hati, dengki dan hasad. Menjauhi sifat-sifat yang bagaikan virus itu, merupakan bagian dari sikap yang harus dilakukan umat Islam. Sebab hal itu bukan saja merugikan bagi yang menjadi sasaran dengki dan hasad, tetapi juga merugikan diri orang itu sendiri.
Ada kisah tentang tingkah laku seorang sahabat sahabat yang oleh Nabi Muhammad saw dijamin bakal menjadi penghuni surga yang kekal. Kisahnya demikian.
Rasulullah pada suatu ketika duduk bersama sahabat. Saat itu lewatlah sahabat lain. Sahabat itu tidak menonjol, biasa saja,. Tetapi kepada para sahabat yang lain, Nabi berkata tentang sahabat yang satu ini. “Dia adalah seorang lelaki calon penghuni surga,” kata beliau sambil menunjuk lelaki itu.
Mendengar itu, Abdullah bin Umar menjadi penasaran. Ia berupaya mengetahui rahasia kehidupan orang yang dipastikan oleh Nabi sebagai penghuni surga itu. “Apa amalan lelaki Anshar ini, dan apa pula kelebihannhya,” kata Abdulah dalam hati.
Untuk menyelidiki orang tersebut, Abdullah bin Umar pun meminta diperbolehkan tinggal selama beberapa hari di rumah sahabat yang dikatakan Nabi calon penghuni surga itu. “Jika tidak keberatan, aku ingin tinggal bersamamu untuk beberapa hari saja,” katanya. “Ada apa dengan kamu?”
“Aku baru saja bertengkar dengan ayahku. Dan aku bersumpah tidak ingin bertemu dengannya selam tiga hari ini,” kata Abdullah berbohong. “Boleh, silahkan kapan saja dan berapa lama pun bisa,” kata sahabat itu dengan ramah.
Selama tiga hari itu, diamatinya tingkah laku dan tindak tanduk sahabat itu dalam kehidupan sehari-harinya. Namun, setelah beberapa hari tinggal beberapa hari di rumah sahabat itu, Abdullah tidak menyaksikan kelebihan amalan atas sahabat itu. Ia menyaksikan kehidupan bakal penghuni surga itu biasa-biasa saja, amalan shalatnya pun biasa-biasa saja.
Saat hendak pamit, Abdullah terpaksa “membuka kartu” dan bertanya kepada tuan rumah bakal penghuni surga itu. “Saudaraku, sebenarnya aku tidak apa-apa dengan ayahku,” kata Abdullah. “Lalu ada apa kau tidur di rumahku?” tanya lelaki Anshar itu. “Beberapa hari yang lalu, ketika kami sedang berkumpul dengan Nabi di masjid, beliau mengatakan bahwa sebentar lagi akan ada orang Anshar calon penghuni surga masuk ke masjid itu. Dan laki-laki Anshar yang disebut-sebut Rasulullah itu adalah kamu.”
“Ah, benarkah begitu?” kata lelaki Anshar itu merendahkan diri. “Benar, Nabi berkata begitu. Cuma kini kami ingin tahu, apa sebenarnya amalan tuan sehingga Rasulullah memastikan tuan akan masuk surga?” tanya Abdullah.
“Oh, jadi selama ini kamu menyelidiki aku ya?”
“Ya,” katanya terus terang.
“Tak ada amalan khusus yang aku amalkan. Beginililah kehidupan saya sehari-hari sebagaimana yang anda saksikan sendiri beberapa hari di sini.” Kata sahabat Anshar itu. Mendengar jawaban itu, Abdullah semakin penasaran. “Tetapi masih ada sesuatu yang anda rahasiakan kepadaku.”
Pada akhirnya orang bakal penghuni surga itu juga ikut ”membuka kartu” dan mengungkapkan apa adanya. “Sesungguhnya yang aku amalkan dari ajaran Nabi adalah biasa saja. Aku berusaha sekuat tenaga tidak akan melakukan perbuatan yang merugikan sesama kaum Muslimin. Aku berusaha selalu berusaha membersihkan hatiku dengan tidak pernah memiliki sifat iri hati serta menaruh rasa dengki dan hasad kepada orang lain sepanjang hidupku. Apalagi hasad terhadap kenikmatan yang diterima orang lain.
“Hanya itu?” tanya Abdullah. “Ya,” jawabnya.
Mendengar pengakuan jujur lelaki itu, Abdullah bin Umar semakin takjub mendengarnya. Secara lahiriah, amalan lelaki Anshar itu tak terlalu istimewa. Tetai secara rohaniah, amalan itu sungguh luar biasa. Bukankah memang banyak orang yang mampu menunaikan shalat tetapi tak mampu menjaga hatinya dari rasairi, dengki, hasad dan prasangka buruk kepada orang lain.
“Subhanallah, rupanya inilah amalan utama yang telah menjadikan dirimu mendapat kemuliaan di surga,” kata Abdullah di dalam hati sambil berpamitan meninggalkan rumah lelaki itu.
Begitulah rahasia yang ditemukan Abdullah bin Umar pada sahabat itu, sehingga ia mendapat jaminan Rasulullah akan menjadi penghuni surga. Kuncinya tidak iri hati, hasad, dan dengki kepada orang lain.
Amalan shalat sebanyak apapun tidak akan berguna jika di dalam hati orang itu masih terdapat sifat dengki dan iri hati. Orang yang terpuji di sisi Allah adalah orang yang menjalankan shalat dengan ikhlas dan menjauhi sifat dengki dan hasad seperti sahabat itu.**
Memberi 1 Dirham, Mendapat 120.000 Dirham Dari Allah
Dari Al-Fudhail bin Iyadh, ia berkata, seorang laki-laki menceritakan kepadaku: “Ada laki-laki yang keluar membawa benang tenun, lalu ia menjualnya satu dirham untuk membeli tepung. Ketika pulang, ia melewati dua orang laki-laki yang masing-masing menjambak kepal kawannya. Ia lalu bertanya, ‘Ada apa?’ Orang pun memberitahunya bahwa keduanya bertengkar karena uang satu dirham. Maka, ia berikan uang satu dirham kepada keduanya, dan iapun tak memiliki sesuatu.
Ia lalu mendatangi isterinya seraya mengabarkan apa yang telah terjadi. Sang isteri lalu mengumpulkan perkakas rumah tangga. Laki-laki itu pun berangkat kembali untuk menggadaikannya, tetapi barang-barang itu tidak laku. Tiba-tiba kemudian ia berpapasan dengan laki-laki yang membawa ikan yang menebar bau busuk. Orang itu lalu berkata kepadanya, ‘Engkau membawa sesuatu yang tidak laku, demikian pula dengan yang saya bawa. Apakah Anda mau menukarnya dengan barang (daganganku)?’ Ia pun mengiakan. Ikan itu pun dibawanya pulang. Kepada isterinya ia berkata, ‘Dindaku, segeralah urus (masak) ikan ini, kita hampir tak berdaya karena lapar!’ Maka sang isteri segera mengurus ikan tersebut. Lalu dibelahnya perut ikan tersebut. Tiba-tiba sebuah mutiara keluar dari perut ikan tersebut
Wanita itu pun berkata gembira, ‘Suamiku, dari perut ikan ini keluar sesuatu yang lebih kecil daripada telur ayam, ia hampir sebesar telur burung dara’.
Suaminya berkata, ‘Perlihatkanlah kepadaku!’ Maka ia melihat sesuatu yang tak pernah dilihatnya sepanjang hidupnya. Pikirannya melayang, hatinya berdebar. Ia lalu berkata kepad isterinya, ‘Tahukah engkau berapa nilai meutiara ini?’ ‘Tidak, tetapi aku mengetahui siapa orang yang pintar dalam hal ini’, jawab suaminya. Ia lalu mengambil mutiara itu. Ia segera pergi ke tempat para penjual mutiara. Ia menghampiri kawannya yang ahli di bidang mutiara. Ia mengucapkan salam kepadanya, sang kawan pun menjawab salamnya. Selanjutnya ia berbicar kepadanya seraya mengeluarkan sesuatu sebesar telur burung dara. ‘Tahukah Anda, berapa nilai ini?, ia bertanya. Kawannya memperhatikan barang itu begitu lama, baru kemudian ia berkata, ‘Aku menghargainya 40 ribu. Jika Anda mau, uang itu akan kubayar kontan sekarang juga kepadamu. Tapi jika Anda menginginkan harga lebih tinggi, pergilah kepada si fulan, dia akan memberimu harga lebih tinggi dariku’.
Maka ia pun pergi kepadanya. Orang itu memperhatikan barang tersebut dan mengakui keelokannya. Ia kemudian berkata, ‘Aku hargai barang itu 80 ribu. Jika Anda menginginkan harga lebih tinggi, pergilah kepada si fulan, saya kira dia akan memberi harga lebih tinggi dariku’.
Segera ia bergegas menuju kepadanya. Orang itu berkata, ‘Aku hargai barang itu 120 ribu. Dan saya kira, tidak ada orang yang berani menambah sedikitu pun dari harga itu!’ ‘Ya’, ia pun setuju. Lalu harta itu ditimbangnya. Maka pada hari itu, ia membawa dua belas kantung uang. Pada masing-masingnya terdapat 10.000 dirham. Uang itu pun ia bawa ke rumahnya untuk disimpan. Tiba-tiba di pintu rumahnya ada seorang fakir yang meminta-minta. Maka ia berkata, ‘Saya punya kisah, karena itu masuklah’. Orang itu pun masuk. Ia berkata, ‘Ambillah separuh dari hartaku ini. Maka, orang fakir itu mengambil enam kantung uang dan dibawanya. Setelah agak menjauh, ia kembali lagi seraya berkata, ‘Sebenarnya aku bukanlah orang miskin atau fakir, tetapi Allah Ta’ala telah mengutusku kepadamu, yakni Dzat yang telah mengganti satu dirhammu dengan 20 qirath. Dan ini yang diberikanNya kepadamu adalah baru satu qirath daripada-nya, dan Dia menyimpan untukmu 19 qirath yang lain.
(SELESAI)
Ummu Ibrahim al Bashariyyah
Dikisahkan di Bashrah terdapat wanita-wanita ahli ibadah, di antaranya adalah Ummu Ibrahim al-Hasyimiyah. Ketika musuh Islam menyusup ke kantong-kantong perbatasan wilayah Islam, maka orang-orang tergerak untuk berjihad di jalan Allah.
‘Abdul Wahid bin Zaid al Bashri berdiri di tengah orang-orang sambil berkhutbah untuk menganjurkan mereka berjihad. Sedangkan saat itu Ummu Ibrahim turut menghadiri majelis ini. ‘Abdul Wahid terus berkhutbah, sampailah pembicaraannya menerangkan tentang bidadari. Bidadari merupakan imbalan bagi sebagian penghuni surga, akibat amalannya diterima oleh Allah, amalan tersebut antara lain adalah jihad.
‘Abdul Wahid menyebutkan pernyataaan-pernyataan tentang bidadari, kemudian dia bersenandung menyifati bidadari ini.
Gadis yang berjalan tenang dan berwibawa
Orang yang menyifatkan memperoleh apa yang diungkapkannya
Dia diciptakan dari segala sesuatu yang baik nan harum
Segala sifat jahat telah dienyahkan
Allah menghiasinya dengan wajah
yang berhimpun padanya sifat-sifat kecantikan yang luar biasa
Matanya bercelak demikian menggoda
Pipinya mencipratkan aroma kesturi
Lemah gemulai berjalan di atas jalannya
Seindah-indah yang dimiliki dan kegembiraan yang berbinar-binar
Apakah kau melihat peminangnya mendengarkannya
Ketika mengelilingkan piala dan bejana
Di taman yang elok yang kita dengar suaranya
Setiap kali angin menerpa tangan itu, bau harumnya menyebar
Dia memanggilnya dengan cinta yang jujur
Hatinya terisi dengannya hingga melimpah
Wahai kekasih aku tidak menginginkan selainnya
Dengan cincin tunangan sebagai pembukanya
Janganlah kau seperti orang yang bersungguh-sungguh ke puncak hajatnya
Kemudian setelah itu ia meninggalkannya
Tidak, orang yang lalai tidak akan bisa meminang wanita sepertiku
Yang meminang wanita sepertiku hanyalah orang yang merengek-rengek
Maka sebagian orang bergerak pada sebagian yang lainnya, dan majelis itupun menjadi ramai dan gaduh. Kemudian Ummu Ibrahim yang mengikuti khutbah ‘Abdul Wahid ini menyeruak dari tengah orang-orang seraya berkata kepada ‘Abdul Wahid,
“Wahai Abu ‘Ubaid, bukankah engkau tahu anakku Ibrahim. Para pemuka Bashrah meminangnya untuk puteri-puteri mereka, tetapi aku memukul anakku ini di hadapan mereka. Demi Allah, gadis (bidadari) ini mencengangkanku dan aku meridhainya menjadi pengantin untuk puteraku. Ulangi lagi apa yang engkau sebutkan tentang kecantikannya.”
Mendengar hal itu ‘Abdul Wahid kembali menyifatkan bidadari, kemudian bersenandung:
Wajahnya mengeluarkan cahaya yang kembali mengeluarkan cahaya
Sendau guraunya seharum parfum dari parfum murni
Jika menginjakkan sandalnya di atas pasir yang sangat gersang
niscaya seluruh penjuru menjadi hijau, dengan tanpa hujan
Tali yang mengikat pinggangnya
Seperti ranting pohon Raihan yang berdaun hijau
Seandainya meludahkan air liurnya dilautan
Niscaya umat manusia merasakan segarnya meminum air lautan
Orang-orangpun menjadi semakin ramai, lalu Ummu Ibrahim maju seraya berkata kepada ‘Abdul Wahid,
“Wahai Abu Ubaid, demi Allah, gadis ini mencengangkanku dan aku meridhainya sebagai pengantin bagi puteraku. Apakah engkau sudi menikahkan puteraku dengan gadis tersebut saat ini juga?, Ambilllah maharnya dariku sebanyak 10.000 dinar, serta bawalah putraku keluar bersamamu menuju peperangan itu. Mudah-mudahan Allah mengaruniakan syahadah (mati syahid) kepadanya, sehingga dia akan memberi syafa’at untukku dan untuk ayahnya pada hari Kiamat.”
‘Abdul Wahidpun menjawab, “Jika engkau melakukannya, niscaya engkau dan anakmu akan mendapatkan keberuntungan yang besar.”
Kemudian Ummu Ibrahim memanggil puteranya, “Wahai Ibrahim!”
Ibrahimpun bergegas maju dari tengah orang-orang seraya mengatakan, “Aku penuhi panggilanmu, wahai ibu.”
Ummu Ibrahim berkata, “Wahai puteraku! Apakah engkau ridha dengan gadis (bidadari) ini sebagai isteri, dengan syarat engkau mengorbankan dirimu di jalan Allah dan tidak kembali dalam dosa-dosa?”
Pemuda ini menjawab, “Ya, demi Allah wahai ibu, aku sangat ridha.”
Ummu Ibrahim berkata, “Ya Allah, aku menjadikan-Mu sebagai saksi bahwa aku telah menikahkan anakku ini dengan gadis ini dengan pengorbanannya di jalan-Mu dan tidak kembali dalam dosa. Maka, terimalah dariku, wahai sebaik-baik Penyayang.”
Kemudian ibu ini pergi, lalu datang kembali dengan membawa 10.000 dinar seraya mengatakan, “Wahai Abu ‘Ubaid, ini adalah mahar gadis itu. Bersiaplah dengan mahar ini. “
Abu Ubaidpun menyiapkan para pejuang di jalan Allah.
Sang ibu kemudian pergi membelikan kuda yang baik untuk puteranya dan menyiapkan senjata untuknya.
Kemudian berangkatlah rombongan ‘Abdul Wahid yang didalamnya terdapat Ibrahim, ke medan perang. Bersamaan dengannya dibacakanlah QS. At-Taubah:111 yang artinya,
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan Surga untuk mereka …”
Ketika sang ibu hendak berpisah dengan puteranya, maka ia menyerahkan kain kafan dan wangi-wangian kepadanya seraya mengatakan kepadanya, “Wahai anakku, jika engkau hendak bertemu dengan musuh, maka pakailah kain kafan ini dan gunakanlah wangi-wangian ini. Janganlah Allah melihatmu dalam keadaan lemah di jalan-Nya.” Kemudian ia memeluk puteranya dan mencium keningnya seraya mengatakan, “wahai anakku, Allah tidak mengumpulkan antara aku denganmu kecuali di hadapan-Nya pada hari Kiamat.”
Selanjutnya marilah kita baca penuturan ‘Abdul Wahid
‘Abdul Wahid berkata, “Ketika kami sampai diperbatasan musuh, kemudian terompet pun ditiup, dan mulailah terjadi perang. Saat itu Ibrahim berperang di barisan terdepan. Ia membunuh musuh dalam jumlah yang besar, sampai musuh mengepungnya, kemudian membunuhnya.”
‘Abdul Wahid berkata, “Ketika kami hendak kembali ke Bashrah, aku berkata kepada Sahabat-Sahabatku,
‘Jangan kalian menceritakan kepada Ummu Ibrahim tentang berita yang menimpa puteranya sampai aku mengabarkan kepadanya dengan sebaik-baik hiburan. Sehingga ia tidak bersedih dan pahalanya tidak hilang.’
Ketika kami sampai di Bashrah, orang-orangpun keluar untuk menyambut kami, dan Ummu Ibrahim pun berada diantara mereka.”
‘Abdul Wahid berkata: “Ketika dia memandangku, ia bertanya, ‘Wahai Abu Ubaid, apakah hadiah dariku diterima sehingga aku diberi ucapan selamat, atau ditolak sehingga aku diberi belasungkawa?’
Akupun menjawab, ‘Hadiahmu telah diterima. Sesungguhnya Ibrahim hidup bersama orang-orang yang hidupdalam keadaan diberi rizki (insyaa Allah)’.
Maka ibu inipun tersungkur dalam keadaan bersujud kepada Allah karena bersyukur, dan mengatakan, ‘Segala puji bagi Allah yang tidak mengecewakanku dan menerima ibadah dariku.’ Kemudian ia pergi.
Keesokan harinya, Ummu Ibrahim datang ke masjid yang didalamnya terdapat ‘Abdul Wahid lalu dia berseru, ‘Assalaamu’alaikum wahai Abu ‘Ubaid, ada kabar gembira untukmu’. Selanjutnya dia berkata,
‘Tadi malam aku bermimpi melihat puteraku, Ibrahim, di sebuah taman yang indah. Di atasnya terdapat kubah hijau, sedangkan dia berada di atas ranjang yang terbuat dari mutiara, dan kepalanya memakai mahkota. Ibrahim berkata,
“Wahai ibu, bergembiralah. Sebab maharnya telah diterima dan aku bersanding dengan pengantin wanita.’”
Demikianlah salah satu kisah ibu-ibu umat Islam terdahulu. Yang dia menyebabkan bangsa Arab dan umat Islam dahulu, menjadi bangsa yang kuat. Umat Islam dahulu menjadi umat yang mempunyai kewibawaan yang besar diantara umat-umat yang lain. Salah satunya adalah upaya dari ibu-ibu dengan menyiapkan anak-anaknya sebagai prajurit pembela Islam.
Marilah para ibu, maupun calon ibu untuk mencontoh segala yang dilakukan oleh ibu-ibu umat Islam ini jaman terdahulu, yang selalu membantu suami dan anaknya dalam rangka mentaati Allah Subhanahu wa ta’ala.
Dengannya semoga kejayaan dan kewibawaan umat Islam mampu kembali.
Sumber: Isyratun Nisaa’ minal alif ilal yaa’
Syahid Selepas mengucapkan Syahadat
Suatu ketika tatkala Rasulullah s.a.w. sedang bersiap di medan perang Uhud, tiba-tiba terjadi hal yang tidak terduga. Seorang lelaki yang bernama Amar bin Thabit telah datang menemui Baginda s.a.w.. Dia rupanya ingin masuk Islam dan akan ikut perang bersama Rasulullah s.a.w. Amar ini berasal dari Bani Asyahali. Sekalian kaumnya ketika itu sudah Islam setelah tokoh yang terkenal Saad bin Muaz memeluk Islam. Tetapi Amar ini enggan mengikut kaumnya yang ramai itu. Keangkuhan jahiliyyah menonjol dalam jiwanya, walaupun dia orang baik dalam pergaulan. Waktu kaumnya menyerunya kepada Islam, ia menjawab, “Kalau aku tahu kebenaran yang aku kemukakan itu sudah pasti aku tidak akan mengikutnya.” Demikian angkuhnya Amar.
Kaum Muslimin di Madinah pun mengetahui bagaimana keanehan Amar di tengah-tengah kaumnya yang sudah memeluk Islam. Ia terasing sendirian, hatinya sudah tertutup untuk menerima cahaya Islam yang terang benderang. Kini dalam saat orang bersiap-siap akan maju ke medan perang, dia segera menemui Rasulullah s.a.w. , menyatakan dirinya akan masuk Islam malah akan ikut berperang bersama angkatan perang di bawah pimpinan Rasulullah s.a.w. . Pedangnya yang tajam ikut dibawanya.
Rasulullah s.a.w. menyambut kedatangan Amar dengan sangat gembira, tambah pula rela akan maju bersama Nabi Muhammad s.a.w.. Tetapi orang ramai tidak mengetahui peristiwa aneh ini, kerana masing-masing sibuk menyiapkan bekalan peperangan. Di kalangan kaumnya juga tidak ramai mengetahui keIslamannya. Bagaimana Amar maju sebagai mujahid di medan peperangan. Dalam perang Uhud yang hebat itu Amar memperlihatkan keberaniannya yang luar biasa. Malah berkali-kali pedang musuh mengenai dirinya, tidak dipedulikannya. Bahkan dia terus maju sampai saatnya dia jatuh pengsan.
“Untuk apa ikut ke mari ya Amar?” Demikian tanya orang yang hairan melihatnya, sebab sangka mereka dia masih musyrik. Mereka kira Amar ini masih belum Islam lalau mengikut sahaja pada orang ramai. Dalam keadaan antara hidup dan mati itu Amar lalu berkata, “Aku sudah beriman kepada Allah s.w.t. dan Rasul-Nya, lalu aku siapkan pedangku dan maju ke medan perang. Allah s.w.t. akan memberikan syahidah padaku dalam waktu yang tidak lama lagi.” Amar meninggal. Rohnya mengadap ke hadrat Illahi sebagai pahlawan syahid. Waktu hal ini diketahui Rasulullah s.a.w. , maka Baginda s.a.w. pun bersabda,: “Amar itu nanti akan berada dalam syurga nantinya.” Dan kaum Muslimin pun mengetahui akhir hayat Amar dengan penuh takjub, sebab di luar dugaan mereka. Malah Abu Hurairah r.a sahabat yang banyak mengetahui hadith Rasulullah s.a.w. berkata kaum Muslimin, “Cuba kamu kemukakan kepadaku seorang yang masuk syurga sedang dia tidak pernah bersyarat sekalipun juga terhadap Allah s.w.t..”
“Jika kamu tidak tahu orangnya.” Kata Abu Hurairah r.a lagi, lalu ia pun menyambung, ujarnya, “Maka baiklah aku beritahukan, itulah dia Amar bin Thabit.” Demikianlah kisah seorang yang ajaib, masuk syurga demikian indahnya. Ia tidak pernah solat, puasa dan lain-lainnya seperti para sahabat yang lain, sebab dia belum memeluk Islam. Tiba-tiba melihat persiapan yang hebat itu, hatinya tergerak memeluk Islam sehingga ia menemui Rasulullah s.a.w.. Ia menjadi Muslim, lalu maju ke medan perang, sebagai mujahid yang berani. Akhirnya tewas dia dengan mendapat syahadah iaitu pengakuan sebagai orang yang syahid. Mati membela agama Allah s.w.t. di medan perang. Maka syurgalah tempat bagi orang yang memiliki julukan syahid. Rasulullah s.a.w. menjamin syurga bagi orang seperti Amar ini.
http://tanbihul_ghafilin.tripod.com/1001kisahteladan4.htm
Kesenjangan
Seekor anak elang begitu serius menatapi suasana kehidupan dari atas bukit. Pandangannya yang tajam terus mengikuti hampir setiap gerakan yang muncul. Ular yang merayap dari bebatuan satu ke bebatuan lain. Kelinci yang melompat dari rerumputan satu ke rerumputan lain. Ikan-ikan yang melenggak-lenggok mengusik kejernihan bayangan permukaan air. Dan lain-lain.
Satu hal yang membingungkan si anak elang: semua gerakan itu tampak begitu lamban. Bagaikan kombinasi beberapa titik yang bergerak lambat. “Kenapa mereka begitu lambat?” ujarnya dalam seribu satu keingintahuan.
Ia pun mengangguk-angguk ketika beberapa elang dewasa memangsa hewan-hewan di bawah bukit itu dengan mudah. “Tentu saja kena. Mereka begitu lamban!” gerutunya penuh yakin.
“Kamu tidak turun memangsa, Nak?”teriak salah satu elang dewasa di dekatnya. “Aku belum mahir terbang!” jawab si anak elang seperti tak peduli. Ia masih disibukkan dengan berbagai keheranan: kenapa hewan-hewan di bawah sana begitu lambat?
Di suatu hari yang cerah, si anak elang akhirnya memaksakan diri belajar terbang. Ia mulai melenturkan kedua sayapnya yang belum terpakai kecuali hanya untuk berlari di sekitar sarang. “Ah, aku yakin bisa!” ucapnya sambil menatap ke bawah. Bongkahan batu-batu besar, menjulangnya pohon-pohon pinus menambah tantangan tersendiri buat si anak elang. Dan, ia pun mulai terbang.
Di luar dugaan, tiupan angin besar tiba-tiba bertiup dari arah belakang. Karena belum pengalaman, si anak elang pun terpelanting. Ia menabrak salah satu dahan pinus. Tubuh elang muda itu pun terperosok di salah satu semak belukar. Salah satu sayapnya terluka.
Baru kali itu si anak elang menginjakkan kakinya di dataran rendah. Dan, baru kali itu pula ia menyaksikan sendiri seperti apa gerakan hewan-hewan ‘bawah’ dari arah dekat. “Ah, selama ini aku salah. Ternyata, hewan-hewan itu bergerak begitu cepat. Cepat sekali!” ucapnya penuh kekaguman. **
Ada kesenjangan lain dalam dunia kehidupan. Antara, dunia atas dengan dunia bawah. Antara mereka yang terbiasa menatap gerak kehidupan dari tempat tinggi, dengan yang melakoni gerak kehidupan dari dunia bawah. Dua-duanya punya kesimpulan sama: gerakan mereka begitu lamban!
Persoalannya mungkin sederhana. Keasyikan berada di tempat-tempat tertentu, atas atau bawah, menjadikan pandangan begitu terbatas. Jarak jika terus dalam jauh, dan keasyikan jika terus dalam dunianya sendiri; akan menyuburkan kesenjangan ini.
Semoga kita tidak seperti yang dialami anak elang, yang baru memahami kesenjangan ketika keadaan memaksanya turun dari tempat atas. (muhammadnuh@eramuslim.com)
Aspirasi
Dua anak kura-kura saling bertatapan ketika orang yang memeliharanya menempatkan mereka di akuarium kering. Padahal, dua kura-kura kecil itu tergolong kura-kura air. Kontan saja, mereka blingsatan.
“Dasar, manusia kurang pengetahuan!”
suara kura-kura yang agak lebih besar. “Iya, kenapa manusia ini tidak belajar dulu tentang kita?” sahut yang kecil menimpali.
Tak lama, keduanya pun merasakan siraman air. Byurr! Dua anak kura-kura menyambut gembira. Tapi, kegembiraan itu tak lama. Karena air yang tersiram begitu banyak,melebihi batas jangkauan leher kura-kura yang butuh nafas di udara bebas.
Lagi-lagi, dua anak kura-kura itu blingsatan. Keduanya tampak mulai pucat karena tak mampu menjangkau permukaan air untuk mengambil nafas. Kalau saja bisa terdengar, mungkin si pemelihara kura-kura akan kaget dengan omelan dua kura-kura kecil itu: “Hei, belajar dulu, dong! Baru ngurusin kita!”
Melihat keanehan itu, si pemelihara kura-kura mulai sadar. Air pun ia kurangi. Dan, wajah puas pun terlihat ketika si pemelihara kura-kura mendapati hewan-hewannya sudah bertingkah normal.
Sesaat kemudian, si pemelihara kura-kura menyeburkan beberapa sobekan roti kedalam akuarium. Ia berharap, kalau peliharaannya akan berebut melahap roti. Tapi, kedua anak kura-kura itu tak peduli.
Kalau saja si manusia pemelihara kura-kura itu mendengar ucapan hewan peliharaannya, ia akan mendengar ucapan ini. “Aduh, gimana sih. Orang butuh cacing air dikasih roti!”
**
Kehidupan mendudukkan manusia pada posisi yang unik. Manusia berkesempatan dan berkemampuan menjadi pemimpin. Manusia punya kemampuan memimpin hewan, tumbuhan, bahkan sesama manusia lain. Saat itulah, manusia bisa menjadi pengendali.
Masalah akan timbul ketika sang pemimpin punya ego yang ingin dipaksakan. Atau, ia memang tidak paham dengan makhluk-makhluk yang ia pimpin: kapasitas, selera, kecenderungan, budaya, dan berbagai hal lain.
Jangan sampai ia seperti pemelihara kura-kura yang buta dengan semua aspirasi hidup yang ia pimpin. Karena didengar atau tidak, mereka yang dipimpin akan mengatakan, “Gimana sih. Orang butuh ini dikasih itu!” (mnuh/eramuslim.com)
“Dasar, manusia kurang pengetahuan!”
suara kura-kura yang agak lebih besar. “Iya, kenapa manusia ini tidak belajar dulu tentang kita?” sahut yang kecil menimpali.
Tak lama, keduanya pun merasakan siraman air. Byurr! Dua anak kura-kura menyambut gembira. Tapi, kegembiraan itu tak lama. Karena air yang tersiram begitu banyak,melebihi batas jangkauan leher kura-kura yang butuh nafas di udara bebas.
Lagi-lagi, dua anak kura-kura itu blingsatan. Keduanya tampak mulai pucat karena tak mampu menjangkau permukaan air untuk mengambil nafas. Kalau saja bisa terdengar, mungkin si pemelihara kura-kura akan kaget dengan omelan dua kura-kura kecil itu: “Hei, belajar dulu, dong! Baru ngurusin kita!”
Melihat keanehan itu, si pemelihara kura-kura mulai sadar. Air pun ia kurangi. Dan, wajah puas pun terlihat ketika si pemelihara kura-kura mendapati hewan-hewannya sudah bertingkah normal.
Sesaat kemudian, si pemelihara kura-kura menyeburkan beberapa sobekan roti kedalam akuarium. Ia berharap, kalau peliharaannya akan berebut melahap roti. Tapi, kedua anak kura-kura itu tak peduli.
Kalau saja si manusia pemelihara kura-kura itu mendengar ucapan hewan peliharaannya, ia akan mendengar ucapan ini. “Aduh, gimana sih. Orang butuh cacing air dikasih roti!”
**
Kehidupan mendudukkan manusia pada posisi yang unik. Manusia berkesempatan dan berkemampuan menjadi pemimpin. Manusia punya kemampuan memimpin hewan, tumbuhan, bahkan sesama manusia lain. Saat itulah, manusia bisa menjadi pengendali.
Masalah akan timbul ketika sang pemimpin punya ego yang ingin dipaksakan. Atau, ia memang tidak paham dengan makhluk-makhluk yang ia pimpin: kapasitas, selera, kecenderungan, budaya, dan berbagai hal lain.
Jangan sampai ia seperti pemelihara kura-kura yang buta dengan semua aspirasi hidup yang ia pimpin. Karena didengar atau tidak, mereka yang dipimpin akan mengatakan, “Gimana sih. Orang butuh ini dikasih itu!” (mnuh/eramuslim.com)
Bila Giliran Itu Tiba
Riiing, riiing suara telepon dirumah kami berbunyi nyaring menjelang tengah malam. Telepon dari sahabat kami yang langsung teridentifikasi begitu bel berdering. Ada apa gerangan ya, batinku dalam hati karena aku yakin biasanya pada jam-jam seperti ini mereka sudah berangkat tidur. Saya hafal kebiasaan mereka yang suka tidur lebih cepat dan gemar menghidupkan sepertiga malamnya, serta bangun pagi.
Kuangkat telepon dan kuucapkan salam. Saya menerima salam balasan yang disampaikan dengan suara yang bergetar hebat seperti menahan sesuatu beban yang sangat berat. Tiba-tiba saya merasakan bahwa ada yang tidak beres dengan sahabat saya; dan saya memilih menunggu sampai ia berhasil menguasai perasaan dan emosinya. Setelah terdiam beberapa saat lamanya, sahabat saya mulai berbicara meskipun terbata-bata.
“Sister,…tolong saya….” Suaranya melemah dan terhenti dalam sunyi.
“Ada apa?” Tanyaku berusaha menyembunyikan perasaanku yang galau dan bergolak menahan rasa ingin tahu.
“Ayah saya sister…, dia…dia… baru masuk rumah sakit hari ini dan baru diketahui kalau ternyata dia mengidap kanker stadium akhir…”suaranya tercekat dan berhenti begitu saja.
Saya kaget sekali dan berusaha menguasai diri. Setelah terdiam beberapa saat, saya mencoba berbicara “Sabar ya, ini ujian dari Allah…”
“Sister, saya ingin sekali membimbing ayah saya; supaya dia bisa masuk Islam…” suaranya terhenti dan kurasakan ada keprihatinan dan kekuatiran yang mendalam dari nada bicaranya.
Ada jarak senyap yang panjang, lalu dia berujar lagi, “Sister, … (senyap) tolong bantu saya dengan doa ya?” suaranya memohon penuh iba dan melemah seolah mencari kekuatan penyangga.
Kurasakan pandanganku mulai kabur oleh air mata yang terus mengalir diam-diam tanpa kusadari. Selebihnya aku lebih banyak diam dan mendengarkan sahabatku bertutur tentang ayahnya sampai telepon ditutup.
***
Beberapa hari kemudian, sahabat saya kembali menelepon. Dari salam pembukanya, aku bisa merasakan kalau kali ini sahabatku terdengar lebih tegar. Setelah saling menyakan kabar masing-masing, sahabatku menarik nafas dalam-dalam dan hening kembali tercipta begitu saja.
Setelah beberapa saat lamanya, akhirnya aku tidak tahan untuk tidak menanyakan kabar ayahandanya. Dengan hati-hati aku bertanya:
“Bagaimana keadaan ayah?” senyap.
“Sister, sepertinya tidak ada harapan untuk ayah saya…” kudengar dia menarik nafas dalam-dalam; kemudian berujar lagi “Ternyata hidayah itu sesuatu yang tidak bisa dipaksakan ya…saya merasa kesulitan untuk mencoba membuka hati ayah saya sendiri…?” suaranya serak dan tertahan seperti meanggung kesedihan.
Saya tidak tahu harus berkata apa, akhirnya dengan menguatkan diri dan dengan sangat berhati-hati saya berkata,
“Yang penting berusaha sajalah, jangan pernah putus asa. Perkara hasil, itu terserah Allah dan yakinlah bahwa Allah pasti akan memberikan yang terbaik buat kita semua, InshaAllah”. Sebuah ungkapan penghibur yang sangat biasa dan kuyakin sahabatkupun sebenarnya sudah sering mendengarnya.
“Iya, ya?!” katanya mencoba menentramkan diri.
“Maafkan saya karena hanya bisa membantu dengan doa saja…”, sambungku.
“Tak apa, jangan lupa doakan kami terus ya Sis”, katanya, sebelum akhirnya telepon ditutup dengan salam.
***
Setelah percakapan ditelepon itu, saya kembali merenungkan apa yang sedang dialami oleh sahabat saya saat ini. Sesuatu yang pernah kami perbincangkan sebelumnya. Kami bahkan sempat membahas tentang apa yang sebaiknya kami lakukan saat giliran itu datang menjemput. Ya, giliran untuk berpisah dengan orang tua yang kita cintai dan hormati. Orang tua yang selama ini telah banyak berjasa dalam mendidik dan membesarkan kita.
Sebuah episode dalam kehidupan yang pasti dan kita yakini datangnya, namun tetap saja tidak semudah seperti yang kita bayangkan sebelumnya saat kita mengalaminya. Hal itu menjadi terasa semakin tidak mudah manakala orang tua yang kita cintai dan hormati ternyata berbeda akidah dan keyakinan dengan kita. Perpisahan dalam kondisi beda keyakinan tersebut pastinya akan menjadi salah satu ujian terberat karena ketiadaan harapan untuk bertemu kembali dengan mereka suatu saat di akhirat kelak.
***
Tiba-tiba saja saya kembali teringat permintaan ibu mertua yang sudah diajukan kepada saya entah berapa kali; dari cara yang halus dan tersamar, sampai terang-terangan. Beliau dengan sangat memintaku untuk mengurusi pemakaman dan merawat tempat pemakamannya bila beliau telah tiada. Sebuah permintaan yang sulit kupenuhi karena pasti akan banyak sekali pernak-pernik yang tidak sesuai dengan akidah dan keyakinan saya.
Saya selalu menolak beliau baik secara halus maupun langsung tapi beliau sepertinya tidak pernah bosan untuk meminta saya. Puncaknya terjadi saat kami liburan di Bali tahun lalu. Beliau kembali mengajukan permintaan tersebut saat kami hanya berdua ditemani kedua anak-anakku yang masih kecil. Lalu dengan sangat hati-hati aku berucap:
“Ibu, kenapa sih Ibu tidak meminta adik ipar saja yang sudah pasti mengetahui semua seluk beluk pemakaman maupun upacara sesuai dengan keyakinan Ibu?”
Ibu mertua tampak murung. Beliau hanya diam saja dengan pandangan yang menerawang sangat jauh.
Saya merasa sangat bersalah tapi tidak punya pilihan lain. Saya juga tidak mau berbohong kepada beliau. Lalu dengan hati-hati kembali beliau berujar bahwa sebenarnya beliau tidak masalah kalaupun saya tidak mengurusnya sesuai dengan prosesi yang sebenarnya. Cukup sekadarnya saja pokoknya yang penting saya menyatakan kesediaannya agar beliau bisa melimpahkan semua peninggalannya pada kami. Sungguh saya merasa sangat terharu dengan permintaan beliau tapi sekali lagi saya minta maaf karena saya takut bermain-main dengan masalah yang bisa membahayakan akidah saya.
Akhirnya, entah untuk yang keberapa kalinya, dengan sangat halus saya kembali berujar bahwa saya tidak memikirkan masalah peninggalan beliau, cukuplah bagi kami limpahan kasih sayang beliau selama ini. Kami tidak berharap lebih. Saya bahkan berharap saya bisa membahagiakan beliau semampu saya sepanjang tidak berseberangan dengan akidah saya. Yang terlihat oleh saya kemudian adalah wajah beliau yang menyiratkan rasa kecewa yang mendalam meskipun beliau berusaha untuk menutupinya.
Sejak saat itu beliau tidak atau belum pernah mengulang permohonannya lagi. Bila sudah demikian, rasanya apa yang saat ini dialami oleh sahabat saya menjadi semakin nyata adanya. Kami pun pasti sudah ada didalam daftar tunggu itu. Ya Allah, bila giliran untuk berpisah itu tiba, semoga kedua mertuaku telah mendapat hidayah dari-Mu yang tak ternilai itu, InshaAllah, amin.
(oase iman eramuslim.com)
Kamis, 07 April 2011
Sambal Petai
Nih makanan paling cocok bagi anda yang doyan makan pete. Sambal petai udah, perpaduan antara udang dan petai. nyam..nyam...Bahan-bahan sambal petai udang:
* 3 papan petai, kupas utuh
* 300 gr udang, kupas, sisakan ekornya
* 5 bh bawang merah, iris
* 2 lbr daun salam
* 2 cm lengkuas, memarkan
* 1 btg serai, memarkan
* 1 sdm gula pasir
* 1 sdt garam
* 50 ml air
* minyak goreng untuk menumis
Bahan untuk bumbu:
* 10 bh cabai merah, buang bijinya
* 2 siung bawang putih
* 3 cm kunyit
* 2 bh kemiri
Cara mengolah:
1. Panaskan minyak, tumis bawang merah iris hingga layu, masukkan bumbu halus, daun salam, lengkuas dan serai, aduk rata.
2. Masukkan udang, petai, gula pasir, garam dan air masak hingga meresap dan mendidih, angkat.
=========================
Bahan-bahan :
a. ½ kg udang
b. 5 batang petai
Bumbu-bumbu :
a. 10 biji bawang merah
b. 3 siung bawang putih
c. 1 ons cabai merah dan rawit
d. gula merah, asam, garam, minyak goreng secukupnya
Cara Membuat / Memasak :
- Petai dikupas, tidak dipotong, udang dikuliti
- Bawang merah, cabai merah dan rawit, gula merah, bawang putih, dan garam, ditumbuk halus dan ditumis sampai baunya harum
- Jika sudah kuning masukkan petai, udang, asam, beri air sedikit agar petainya empuk. Bila sudah agak kering airnya dan matang, angkatlah segera bisa dihidangkan
* 3 papan petai, kupas utuh
* 300 gr udang, kupas, sisakan ekornya
* 5 bh bawang merah, iris
* 2 lbr daun salam
* 2 cm lengkuas, memarkan
* 1 btg serai, memarkan
* 1 sdm gula pasir
* 1 sdt garam
* 50 ml air
* minyak goreng untuk menumis
Bahan untuk bumbu:
* 10 bh cabai merah, buang bijinya
* 2 siung bawang putih
* 3 cm kunyit
* 2 bh kemiri
Cara mengolah:
1. Panaskan minyak, tumis bawang merah iris hingga layu, masukkan bumbu halus, daun salam, lengkuas dan serai, aduk rata.
2. Masukkan udang, petai, gula pasir, garam dan air masak hingga meresap dan mendidih, angkat.
=========================
Bahan-bahan :
a. ½ kg udang
b. 5 batang petai
Bumbu-bumbu :
a. 10 biji bawang merah
b. 3 siung bawang putih
c. 1 ons cabai merah dan rawit
d. gula merah, asam, garam, minyak goreng secukupnya
Cara Membuat / Memasak :
- Petai dikupas, tidak dipotong, udang dikuliti
- Bawang merah, cabai merah dan rawit, gula merah, bawang putih, dan garam, ditumbuk halus dan ditumis sampai baunya harum
- Jika sudah kuning masukkan petai, udang, asam, beri air sedikit agar petainya empuk. Bila sudah agak kering airnya dan matang, angkatlah segera bisa dihidangkan
Sambal Kabau
Description:
salah satu makanan ( sambal ) yang menjadi favoritnya orang-orang rejang. yang terbuat dari kabau, ( untuk yang ado dirantau mohon maaf nian ambo cuma bisa kasih gambarnyo bae..D )
Bahan-bahan :
Kabau 250 grm
Cabe kriting 100 gr
Bawang putih 1 siung
Bawang marah 3 siung
Tomat 1 buah
Garam secukupnya
Minyak goreng
Directions:
Cara membuatnya :
Kabau di tumbuk kasar tapi jangan sampai terlalu hancur, lalu panaskan minyak buat menggoreng kabau tadi, setelah kering ditiriskan,selanjutnya giling cabe, bawang putih dan bawang merah dengan garam secukupnya,setelah di giling lalu ditumis hingga harum dan selanjunta masukkan kabau yang telah di goreng sebelumnya.( sambal kabau ini bisa juga ditambahkan dengan ikan teri, tahu, atau tempe yang telah di goreng, atau sesuai dengan selera anda / ayam, daging,telor juga boleh :D ) Selesai..:D
TEMPOYAK, masakan lezat berbahan durian
Bahan-bahan :
- Tempoyak
- Bawang merah, haluskan
- cabe merah, haluskan
- Gula pasir
- Garam
- Tomat merah
- Minyak goreng untuk menumis
- Teri basah (optional)
Cara membuat:
- Tumis bumbu halus (bawang merah dan cabe merah) sampe harum.
- Masukkan tomat, aduk sampe layu. masukkan teri basah. aduk rata.
- Masukkan garam dan gula pasir. aduk rata.
- Masukkan tempoyak. aduk rata sampai masak (biasanya meletup letup dan wangi).
- Angkat dan sajikan.
==============
Gulai Tempoyak Ikan Tenggiri
Bahan-bahan:
2 ons tempoyak
2,5 ons daging ikan tenggiri
Cabe
Bumbu untuk membuat gulai lengkap
Santan kelapa
Cara membuat:
Bumbu gulai digiling halus
Santan kelapa dimasak hingga mendidih
Masukkan bumbu2 halus tadi, daging ikan dan tempoyak
Masak hingga matang,
Angkat dan hidangkan
==============
Sambal Tempoyak Udang Petai
Bahan-Bahan:
1 mangkuk tempoyak
1 mangkuk udang basah
1 mangkuk santan
1 mangkuk air
1 mangkuk petai buang kulitnya
20 biji cabe merah besar
1 potong kunyit
5 helai daun kunyit - diiris
Sebiji bawang besar diiris
Sedikit garam
Cara membuat:
Cabe merah dan kunyit ditumbuk hingga halus
Masukkan ke dalam kuali bersama tempoyak, santan dan air.
Masakkan hingga mendidih. aduk rata
Masukkan udang, petai dan bawang.
Masukkan garam dan masak hingga agak pekat.
Aduk selalu agar masak merata
Angkat dan siap dihidangkan
==============
Pepes Tempoyak Ikan Patin
Bahan:
1 ekor ikan patin segar, bersihkan (kalo bisa yang masih hidup), belah 2 bagian
2 btg serai dipekprek
2 lbr daun salam
6 cm laos, dipekprek bagi 2
4 lbr daun pisang utk pembungkus ( 1 bagian ikan dibungkus 2 lembar)
4 bh tusuk sate kecil / lidi (untuk penyemat)
Tempoyak secukupnya
Bahan untuk dihaluskan :
10 bh cabe merah + 5 bh cabe rawit
1 ruas kunyit
1 ruas jahe
6 btr bwg merah
1 btr bwg putih
Garam, gula, boleh ditambah penyedap rasa sedikit saja
Cara membuat:
- Haluskan bahan-bahan di atas, lalu ambil sedikit tempoyak yg sudah jadi, campurkan dengan bumbu halus itu.
- Cicipi, sudah pas atau tidak, manis dan asinnya (pasti asamnya sudah pas karena dari tempoyaknya)
- Ambil 2 lembar daun utk membungkus taruh bumbu halus, lalu taruh 1 bagian ikan, lumuri lagi ikan dengan bumbu, beri 1 btg serai, 1 lbr salam, lalu bungkus dan sematkan lidi.
- Lakukan yg sama dengan 1 bgn ikan yg lain, jadi bumbu halusnya dibagi 2 saja.
- Diamkan semalaman di kulkas, besoknya, dikukus sampai matang +/- 20 menit, api sedang, lalu taruh di teflon, panggang sebentar saja, agar kering, siap dihidangkan.
Selamat mencoba
==============
Masak Ikan Patin Tempoyak (ala malaysia)
Bahan-bahan:
Satu ekor ikan patin, ukuran sedang
2 ruas kunyit, ditumbuk halus
6 biji bawang merah, ditumbuk halus
15 biji cabe rawit, ditumbuk halus
2 senduk tempoyak
1 biji timun cina, dipotong dadu
2 ikat daun kesum
2 ikat bunga kantan
sedikit asam keping
3 cawan air atau tergantung selera
garam secukupnya
gula secukupnya
Cara membuat:
- Ikan disiang dan dilumuri dengan asam jawa & jeruk nipis untuk menghilangkan bau amis ikan selama 1 jam.
- Kunyit, bawang merah dan cabe rawit ditumbuk halus dan dicampurkan dengan tempoyak, aduk rata.
- Masukkan ke dalam kuali yang sudah diisi air, aduk hingga rata.
- Masukkan asam keping,
- Masak di atas api selama 3 menit, lalu masukkan ikan yang terlebih dahulu dibersihkan
- Masukkan bunga kantan, daun kesum dan timun cina dan garam,
- Kalau terlalu pedas, dapat ditambahkan gula sedikit.
(untuk 4 org makan)
==============
Sambal Udang Tempoyak Durian
Bahan:
20 buah udang ukuran sedang dibersihkan
2 sendok sayur cabe yang sudah dihaluskan
2 sdm Tempoyak Duren
6 buah cabe rawit utuh
3 siung bawang Putih haluskan
1 sdm gula putih
Minyak secukupnya
Garam secukupnya
Cara membuat:
- Campur bawang putih yang sudah digiling dg cabe halus,
- Goreng udang sampai berubah warna dan angkat,
- Masukkan bawang putih yg sudah tercampur dg cabe di minyak sisa penggorengan Udang,
- Masukkan udang, tempoyak, gula dan garam.
- Masak hingga matang, agak pekat
- Angkat dan siap dihidangkan
=============
Sambal Tempoyak
(Masakan Tradisonal Bengkulu)
Bahan:
* Tempoyak 200 gram
* 5 butir bawang merah
* 2 cm kunyit
* 2 cm lengkuas
* 1 tangkai serai, dimemarkan
* 250 gram udang, kerat punggungnya
* 500 ml santan
* 1/2 sendok teh garam
* 1/4 sendok teh gula
Cara membuat :
- Haluskan bawang merah, kunyit, dan lengkuas lalu aduk dengan bahan lainnya
- Didihkan sampai matang
==============
Ayam Masak Tempoyak (ala malaysia)
Bahan-bahan:
½ ekor ayam
3 biji bawang merah
4 sudu besar tempoyak
½ inci kunyit
10 biji cabe rawit
Garam secukupnya
Sehelai daun kunyit
Penyedap rasa secukupnya
Cara membuat:
- Potong ayam, bersihkan dan rebus selama 10 menit
- Kisar bawang, tempoyak, kunyit dan cili api,
- Apabila ayam sudah empuk, masukkan bahan yg telah dikisar.
- Masukan garam dan daun kunyit, biarkan pekat dan bolehlah dihidang.
==============
Sambal Tempoyak Ikan Bilis
Bahan:
100g ikan bilis
3 sendok tempoyak
2 sendok minyak goreng
Garam secukupnya
Bahan sambal:
10 buah cabe rawit
2 sendok saus cabe
2cm potong kunyit, haluskan
2 tangkai lemon grass, hancurkan
2 sendok santan kelapa
10 biji petai dibuang kulitnya
Cara membuat:
- Buang kepala dan isi perut ikan bilis, cuci dan rendam 10 menit
- Goreng hingga agak kering
- Campurkan 2 sendok tempoyak, santan dan semua bahan sambal.
- Tumis bahan sambal, tambahkan lemon grass sampai harum
- Masukkan sisa tempoyak (yang 1 sendok lagi), masak sampai mendidih dan agak pekat.
- Boleh ditambahkan garam atau penyedap rasa secukupnya
- Hidangkan bersama ikan bilis yang telah digoreng kering
==============
Ikan Bakar Tempoyak
Bahan-Bahan:
5 Ekor Ikan Kembung
7 biji cabe rawit
3 biji bawang merah
1 biji bawang putih
Garam secukupnya
Serbuk kunyit secukupnya
2 sendok besar tempoyak (atau secukupnya)
5 helai daun kunyit
1 helai daun pisang
Cara membuat:
Cabe rawit, bawang merah, bawang putih ditumbuk halus. Campurkan garam, serbuk kunyit dan tempoyak aduk atau ulek sampai rata.
Letakkan ikan di atas sehelai daun kunyit, oleskan bahan yang sudah dihaluskan tadi secara merata pada ikan, lalu gulung.
Letakkan gulungan ikan ke atas bara api, alasi dengan daun pisang.
Bakar sampai matang
Catatan:
Boleh juga membakar ikan tadi di dalam kertas alumunium atau dalam microwave.
==============
Daun Singkong Masak Tempoyak
Bahan-Bahan:
5 ikat pucuk singkong (direbus dan dipotong-potong)
130 gm udang basah yang telah dibersihkan
2 liter santan
100 gm tempoyak
2 helai daun kunyit (dihiris halus)
Garam & penyedap rasa secukupnya
Bahan-bahan dihaluskan:
40 gram bawang merah
25 gram kunyit
1 ikat serai, dimemarkan
10 gram cabe rawit
Cara membuat:
Masukkan semua bahan-bahan di dalam panci kemudian jerangkan di atas api yang sedang sambil diaduk hingga mendidih dan pekat.
==============
Ikan Betutu Masak Tempoyak
Bahan-Bahan:
Seekor ikan betutu - ukuran sedang
60 gram tempoyak
4 siung bawang putih - diiris
2 siung bawang besar - diiris
1 buah tomat - di potong jadi empat
2 biji cabe merah - dibelah dua
1 batang serai - dimemarkan
1 keping asam keping
1 sudu serbuk kunyit
6 biji cili padi - ditumbuk
½ biji kelapa - diambil santannya
Garam dan gula secukupnya
Cara:
Tumis bawang putih dan bawang besar yang telah dikisar sehingga garing.
Masukkan air dan biarkan mendidih.
Masukkan serai, asam keping, tempoyak, tomato, cili merah, santan, garam dan gula secukupnya dan biarkan beberapa menit.
Masukkan ikan dan kecilkan api. Masak hingga matang.
Setelah ikan masak, angkat untuk dihidangkan.
==============
Tempoyak Jantung Pisang
Bahan-Bahan:
1 biji jantung pisang, ukuran sedang, iris tipis
3 helai daun kunyit - diiris
1 mangkuk santan kental
1 mangkuk tempoyak
Garam secukupnya
Gula secukupnya (jika dirasa terlalu masam akibat tempoyak atau terlalu pedas)
Bahan untuk haluskan:
10 biji cabe rawit
1 batang xabe merah
5 siung bawang merah
3 siung bawang putih
½ inci kunyit
1 batang serai, dimemarkan
Cara membuat:
Masukkan bahan yang telah dihaluskan dan santan kedalam kuali / panci - didihkan.
Masukkan tempoyak, aduk rata.
Masukkan jantung pisang dan garam.
Aduk dan biarkan hingga kental.
==============
Pepes Ikan Mas Tempoyak
Bahan
1 ekor ikan mas
3 sendok makan santan kental
Daun pisang untuk pembungkus
1 ons tempoyak
Bumbu
20 buah cabe rawit
10 buah cabe merah
1 ruas jari kunyit
1 batang serai
Daun salam, daun kunyit secukupnya
Garam dan bumbu penyedap secukupnya
Cara membuat
- Bersihkan ikan, cuci lalu ditiriskan.
- Kunyit, serai, cabe merah, cabe rawit digiling halus Lalu campurkan dengan tempoyak, santan kental, bumbu penyedap, daun kunyit dan daun salam.
- Campurkan ikan dengan bumbu-bumbu tersebut lalu bungkus dengan daun pisang
- Bakar dengan api arang sampai matang
- Keluarkan dari daun, dihidangkan dengan piring ceper.
==============
- Tempoyak
- Bawang merah, haluskan
- cabe merah, haluskan
- Gula pasir
- Garam
- Tomat merah
- Minyak goreng untuk menumis
- Teri basah (optional)
Cara membuat:
- Tumis bumbu halus (bawang merah dan cabe merah) sampe harum.
- Masukkan tomat, aduk sampe layu. masukkan teri basah. aduk rata.
- Masukkan garam dan gula pasir. aduk rata.
- Masukkan tempoyak. aduk rata sampai masak (biasanya meletup letup dan wangi).
- Angkat dan sajikan.
==============
Gulai Tempoyak Ikan Tenggiri
Bahan-bahan:
2 ons tempoyak
2,5 ons daging ikan tenggiri
Cabe
Bumbu untuk membuat gulai lengkap
Santan kelapa
Cara membuat:
Bumbu gulai digiling halus
Santan kelapa dimasak hingga mendidih
Masukkan bumbu2 halus tadi, daging ikan dan tempoyak
Masak hingga matang,
Angkat dan hidangkan
==============
Sambal Tempoyak Udang Petai
Bahan-Bahan:
1 mangkuk tempoyak
1 mangkuk udang basah
1 mangkuk santan
1 mangkuk air
1 mangkuk petai buang kulitnya
20 biji cabe merah besar
1 potong kunyit
5 helai daun kunyit - diiris
Sebiji bawang besar diiris
Sedikit garam
Cara membuat:
Cabe merah dan kunyit ditumbuk hingga halus
Masukkan ke dalam kuali bersama tempoyak, santan dan air.
Masakkan hingga mendidih. aduk rata
Masukkan udang, petai dan bawang.
Masukkan garam dan masak hingga agak pekat.
Aduk selalu agar masak merata
Angkat dan siap dihidangkan
==============
Pepes Tempoyak Ikan Patin
Bahan:
1 ekor ikan patin segar, bersihkan (kalo bisa yang masih hidup), belah 2 bagian
2 btg serai dipekprek
2 lbr daun salam
6 cm laos, dipekprek bagi 2
4 lbr daun pisang utk pembungkus ( 1 bagian ikan dibungkus 2 lembar)
4 bh tusuk sate kecil / lidi (untuk penyemat)
Tempoyak secukupnya
Bahan untuk dihaluskan :
10 bh cabe merah + 5 bh cabe rawit
1 ruas kunyit
1 ruas jahe
6 btr bwg merah
1 btr bwg putih
Garam, gula, boleh ditambah penyedap rasa sedikit saja
Cara membuat:
- Haluskan bahan-bahan di atas, lalu ambil sedikit tempoyak yg sudah jadi, campurkan dengan bumbu halus itu.
- Cicipi, sudah pas atau tidak, manis dan asinnya (pasti asamnya sudah pas karena dari tempoyaknya)
- Ambil 2 lembar daun utk membungkus taruh bumbu halus, lalu taruh 1 bagian ikan, lumuri lagi ikan dengan bumbu, beri 1 btg serai, 1 lbr salam, lalu bungkus dan sematkan lidi.
- Lakukan yg sama dengan 1 bgn ikan yg lain, jadi bumbu halusnya dibagi 2 saja.
- Diamkan semalaman di kulkas, besoknya, dikukus sampai matang +/- 20 menit, api sedang, lalu taruh di teflon, panggang sebentar saja, agar kering, siap dihidangkan.
Selamat mencoba
==============
Masak Ikan Patin Tempoyak (ala malaysia)
Bahan-bahan:
Satu ekor ikan patin, ukuran sedang
2 ruas kunyit, ditumbuk halus
6 biji bawang merah, ditumbuk halus
15 biji cabe rawit, ditumbuk halus
2 senduk tempoyak
1 biji timun cina, dipotong dadu
2 ikat daun kesum
2 ikat bunga kantan
sedikit asam keping
3 cawan air atau tergantung selera
garam secukupnya
gula secukupnya
Cara membuat:
- Ikan disiang dan dilumuri dengan asam jawa & jeruk nipis untuk menghilangkan bau amis ikan selama 1 jam.
- Kunyit, bawang merah dan cabe rawit ditumbuk halus dan dicampurkan dengan tempoyak, aduk rata.
- Masukkan ke dalam kuali yang sudah diisi air, aduk hingga rata.
- Masukkan asam keping,
- Masak di atas api selama 3 menit, lalu masukkan ikan yang terlebih dahulu dibersihkan
- Masukkan bunga kantan, daun kesum dan timun cina dan garam,
- Kalau terlalu pedas, dapat ditambahkan gula sedikit.
(untuk 4 org makan)
==============
Sambal Udang Tempoyak Durian
Bahan:
20 buah udang ukuran sedang dibersihkan
2 sendok sayur cabe yang sudah dihaluskan
2 sdm Tempoyak Duren
6 buah cabe rawit utuh
3 siung bawang Putih haluskan
1 sdm gula putih
Minyak secukupnya
Garam secukupnya
Cara membuat:
- Campur bawang putih yang sudah digiling dg cabe halus,
- Goreng udang sampai berubah warna dan angkat,
- Masukkan bawang putih yg sudah tercampur dg cabe di minyak sisa penggorengan Udang,
- Masukkan udang, tempoyak, gula dan garam.
- Masak hingga matang, agak pekat
- Angkat dan siap dihidangkan
=============
Sambal Tempoyak
(Masakan Tradisonal Bengkulu)
Bahan:
* Tempoyak 200 gram
* 5 butir bawang merah
* 2 cm kunyit
* 2 cm lengkuas
* 1 tangkai serai, dimemarkan
* 250 gram udang, kerat punggungnya
* 500 ml santan
* 1/2 sendok teh garam
* 1/4 sendok teh gula
Cara membuat :
- Haluskan bawang merah, kunyit, dan lengkuas lalu aduk dengan bahan lainnya
- Didihkan sampai matang
==============
Ayam Masak Tempoyak (ala malaysia)
Bahan-bahan:
½ ekor ayam
3 biji bawang merah
4 sudu besar tempoyak
½ inci kunyit
10 biji cabe rawit
Garam secukupnya
Sehelai daun kunyit
Penyedap rasa secukupnya
Cara membuat:
- Potong ayam, bersihkan dan rebus selama 10 menit
- Kisar bawang, tempoyak, kunyit dan cili api,
- Apabila ayam sudah empuk, masukkan bahan yg telah dikisar.
- Masukan garam dan daun kunyit, biarkan pekat dan bolehlah dihidang.
==============
Sambal Tempoyak Ikan Bilis
Bahan:
100g ikan bilis
3 sendok tempoyak
2 sendok minyak goreng
Garam secukupnya
Bahan sambal:
10 buah cabe rawit
2 sendok saus cabe
2cm potong kunyit, haluskan
2 tangkai lemon grass, hancurkan
2 sendok santan kelapa
10 biji petai dibuang kulitnya
Cara membuat:
- Buang kepala dan isi perut ikan bilis, cuci dan rendam 10 menit
- Goreng hingga agak kering
- Campurkan 2 sendok tempoyak, santan dan semua bahan sambal.
- Tumis bahan sambal, tambahkan lemon grass sampai harum
- Masukkan sisa tempoyak (yang 1 sendok lagi), masak sampai mendidih dan agak pekat.
- Boleh ditambahkan garam atau penyedap rasa secukupnya
- Hidangkan bersama ikan bilis yang telah digoreng kering
==============
Ikan Bakar Tempoyak
Bahan-Bahan:
5 Ekor Ikan Kembung
7 biji cabe rawit
3 biji bawang merah
1 biji bawang putih
Garam secukupnya
Serbuk kunyit secukupnya
2 sendok besar tempoyak (atau secukupnya)
5 helai daun kunyit
1 helai daun pisang
Cara membuat:
Cabe rawit, bawang merah, bawang putih ditumbuk halus. Campurkan garam, serbuk kunyit dan tempoyak aduk atau ulek sampai rata.
Letakkan ikan di atas sehelai daun kunyit, oleskan bahan yang sudah dihaluskan tadi secara merata pada ikan, lalu gulung.
Letakkan gulungan ikan ke atas bara api, alasi dengan daun pisang.
Bakar sampai matang
Catatan:
Boleh juga membakar ikan tadi di dalam kertas alumunium atau dalam microwave.
==============
Daun Singkong Masak Tempoyak
Bahan-Bahan:
5 ikat pucuk singkong (direbus dan dipotong-potong)
130 gm udang basah yang telah dibersihkan
2 liter santan
100 gm tempoyak
2 helai daun kunyit (dihiris halus)
Garam & penyedap rasa secukupnya
Bahan-bahan dihaluskan:
40 gram bawang merah
25 gram kunyit
1 ikat serai, dimemarkan
10 gram cabe rawit
Cara membuat:
Masukkan semua bahan-bahan di dalam panci kemudian jerangkan di atas api yang sedang sambil diaduk hingga mendidih dan pekat.
==============
Ikan Betutu Masak Tempoyak
Bahan-Bahan:
Seekor ikan betutu - ukuran sedang
60 gram tempoyak
4 siung bawang putih - diiris
2 siung bawang besar - diiris
1 buah tomat - di potong jadi empat
2 biji cabe merah - dibelah dua
1 batang serai - dimemarkan
1 keping asam keping
1 sudu serbuk kunyit
6 biji cili padi - ditumbuk
½ biji kelapa - diambil santannya
Garam dan gula secukupnya
Cara:
Tumis bawang putih dan bawang besar yang telah dikisar sehingga garing.
Masukkan air dan biarkan mendidih.
Masukkan serai, asam keping, tempoyak, tomato, cili merah, santan, garam dan gula secukupnya dan biarkan beberapa menit.
Masukkan ikan dan kecilkan api. Masak hingga matang.
Setelah ikan masak, angkat untuk dihidangkan.
==============
Tempoyak Jantung Pisang
Bahan-Bahan:
1 biji jantung pisang, ukuran sedang, iris tipis
3 helai daun kunyit - diiris
1 mangkuk santan kental
1 mangkuk tempoyak
Garam secukupnya
Gula secukupnya (jika dirasa terlalu masam akibat tempoyak atau terlalu pedas)
Bahan untuk haluskan:
10 biji cabe rawit
1 batang xabe merah
5 siung bawang merah
3 siung bawang putih
½ inci kunyit
1 batang serai, dimemarkan
Cara membuat:
Masukkan bahan yang telah dihaluskan dan santan kedalam kuali / panci - didihkan.
Masukkan tempoyak, aduk rata.
Masukkan jantung pisang dan garam.
Aduk dan biarkan hingga kental.
==============
Pepes Ikan Mas Tempoyak
Bahan
1 ekor ikan mas
3 sendok makan santan kental
Daun pisang untuk pembungkus
1 ons tempoyak
Bumbu
20 buah cabe rawit
10 buah cabe merah
1 ruas jari kunyit
1 batang serai
Daun salam, daun kunyit secukupnya
Garam dan bumbu penyedap secukupnya
Cara membuat
- Bersihkan ikan, cuci lalu ditiriskan.
- Kunyit, serai, cabe merah, cabe rawit digiling halus Lalu campurkan dengan tempoyak, santan kental, bumbu penyedap, daun kunyit dan daun salam.
- Campurkan ikan dengan bumbu-bumbu tersebut lalu bungkus dengan daun pisang
- Bakar dengan api arang sampai matang
- Keluarkan dari daun, dihidangkan dengan piring ceper.
==============
Langganan:
Postingan (Atom)










